Di penghujung malam. lilin-lilin
kecil itu masih memijarkan cahaya menerangi sebuah ruangan pengap yang berdebu.
Di sudut ruangan, seorang gadis cantik duduk lemas. Kedua kakinya yang dipeluk
tangannya tampak gemetar. Meskipun air mata membasahi pipi putih halusnya,
namun kecantikan tak pudar dari wajah oval itu.
“Akankah gelap berganti terang?” tanyanya sambil menghapus air mata.
Sreeeettt...suara pintu terbuka.
“Dina!!!”seru wanita paruh baya
kepada gadis itu.
“Ibu…,”balas Dina sambil terisak
pilu.
Sang ibu bergegas menghampiri
gadis jelita itu, kemudian memeluknya erat. Tangis Dina pun meledak saat
wajahnya berada dalam dekapan wanita bertubuh mungil itu. Kesabaran seorang ibu
yang penuh kasih memberikan sedikit ketenangan bagi jiwa yang terluka.
Dengan lembut, ibu mengangkat
wajah Dina yang basah. Air mata terus menetes. Dina menggigit bibir bawahnya
seperti ingin menahan rasa sakit yang sangat dalam.
“Me..re…ka mem...mem..memper…kosaku,
Bu…” terbata-bata Dina bercerita kepada ibu. Kesedihan yang mendalam membuatnya
tak sadarkan diri.
Ibu pun panik dan berteriak memanggil-manggil warga yang menunggu di luar
ruangan.
“Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, tolong,
tolong anak saya.”
Warga pun segera membantu ibu
menyadarkan Dina. Salah seorang dari mereka membawakan obat gosok untuk
ditempelkan ke hidung Dina agar gadis ayu itu cepat siuman.
“Siapa yang memeperkosamu, Nak?”
tanya ibu kepada Dina usai putri semata wayangnya sadar dari pingsan.
“Mereka berdelapan, tukang ojek
yang biasa mangkal di depan kampusku, menguntitku dari kampus, kemudian mereka
mengeluarkan kata-kata jorok. Aku
berusaha mempercepat langkah menghindari mereka. Tapi mereka terus
mengikutiku,”jawab Dina dengan napas memburu.
“Ibu, sesampainya di kebun karet
dekat kampus, salah satu dari mereka tiba-tiba mencolek-colekku, aku tepis
tangan itu. Kemudian yang lain ikut-ikutan, bahkan ada yang meremas
payudaraku. Aku berontak dan mencoba
lari. Tapi mereka mengejar dan menangkapku. Mereka menyeretku ke semak-semak belukar. Disana mereka memuaskan nafsu mereka dan memperkosaku.
Salah satu dari mereka mengambil gambarku yang tanpa busana dengan kamera.
Mereka mengancam akan menyebar foto-foto telanjangku bila aku menceritakan
kejadian itu, Bu. Setelah mereka kabur, aku mengenakan kembali pakaianku yang
sudah sobek-sobek, dengan sisa tenaga yang ada
berjalan tertatih menahan rasa sakit. Di ujung jalan, aku bertemu dengan
seorang anak kecil yang baru pulang mengaji. Dia membantuku berjalan dan
mengajakku kemari. Keluarganya kemudian membantuku bersama warga lain,”lanjut
Dina mengungkapkan kronologis
pemerkosaan yang menimpa dirinya.
Ibu menghela napas panjang. Meski berat, ibu mencoba tegar untuk bisa
memberikan kekuatan dan dukungan moral untuk putri tercinta. Ibu memeluk
putrinya dengan erat.
“Tidak ada yang perlu ditakutkan, Sayang. Kita akan laporkan pemerkosaan
ini kepada pihak yang berwajib.Allah bersama kita, Dia akan membantumu melewati
masa-masa sulit ini.”
Lalu ibu berdiri dan menghampiri anak kecil yang telah menolong Dina. Ibu
memeluk anak lelaki itu.
“Terima kasih, Nak. Mungkin bila tidak ada kamu, mungkin akan terjadi
sesuatu yang lebih buruk lagi menimpa anak saya.
Ibu mengeluarkan sepuluh lembar uang seratus ribuan kepada anak tersebut.
Namun anak itu menolak.
“Dimas bertemu kakak Dina karena Allah yang mempertemukan kami. Atas
kehendak-Nya pula Dimas wajib menolong kakak Dina,”ujarnya dengan wajah polos.
“Subhanallah,”cetus ibu.
Mbok Ndar, ibunda Dimas menghampiri Dina yang masih gemetaran dan berkata,”Nak,
mari ikut kami, kami sudah siapkan kamar untukmu dan ibumu. Bila lapar, ada
makanan yang bisa dimakan sekadarnya.”
“Tidak usah repot-repot, Bu. Kami
mohon pamit karena kami harus segera ke rumah sakit untuk melakukan visum dan
selanjutnya melaporkan peristiwa ini kepada Kepolisian. Terima kasih atas
bantuan kalian. Mungkin lain kali, kami bermaksud mengundang Bapak-Bapak dan
Ibu-Ibu, mohon datanglah ke rumah kami,”jawab ibu.
Ibu pun memanggil Carmel , sopir pribadi
keluarga mereka, dan Ilyas, petugas keamanan yang bekerja di rumah mereka. Carmel dan Ilyas dengan sigap membantu
Dina berdiri dan membopong ke mobil mewah mereka. Angin berhembus dengan
kencang tiada menyurutkan niat ibu untuk membawa Dina pulang.
BMW X5 hitam itu kemudian melaju dengan gagah membelah kegelapan malam. Dari
dalam mobil, Dina menatap rembulan dengan mata kosong, tak tahu apakah esok
masih dapat melihat keindahan bulan yang menerangi malam.
