Brenda Sulaiman

Brenda Sulaiman
My mother is my hero
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 September 2011

Asa Yang Terbang Ditiup Angin Malam


Di penghujung malam. lilin-lilin kecil itu masih memijarkan cahaya menerangi sebuah ruangan pengap yang berdebu. Di sudut ruangan, seorang gadis cantik duduk lemas. Kedua kakinya yang dipeluk tangannya tampak gemetar. Meskipun air mata membasahi pipi putih halusnya, namun kecantikan tak pudar dari wajah oval itu.
“Akankah gelap berganti terang?” tanyanya sambil menghapus air mata.
Sreeeettt...suara pintu terbuka.
“Dina!!!”seru wanita paruh baya kepada gadis itu.
“Ibu…,”balas Dina sambil terisak pilu.
Sang ibu bergegas menghampiri gadis jelita itu, kemudian memeluknya erat. Tangis Dina pun meledak saat wajahnya berada dalam dekapan wanita bertubuh mungil itu. Kesabaran seorang ibu yang penuh kasih memberikan sedikit ketenangan bagi jiwa yang terluka.
Dengan lembut, ibu mengangkat wajah Dina yang basah. Air mata terus menetes. Dina menggigit bibir bawahnya seperti ingin menahan rasa sakit yang sangat dalam.
“Me..re…ka mem...mem..memper…kosaku, Bu…” terbata-bata Dina bercerita kepada ibu. Kesedihan yang mendalam membuatnya tak sadarkan diri.
Ibu pun panik dan berteriak memanggil-manggil warga yang menunggu di luar ruangan.
“Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, tolong, tolong anak saya.”
Warga pun segera membantu ibu menyadarkan Dina. Salah seorang dari mereka membawakan obat gosok untuk ditempelkan ke hidung Dina agar gadis ayu itu cepat siuman.
“Siapa yang memeperkosamu, Nak?” tanya ibu kepada Dina usai putri semata wayangnya sadar dari pingsan.
“Mereka berdelapan, tukang ojek yang biasa mangkal di depan kampusku,  menguntitku dari kampus, kemudian mereka mengeluarkan kata-kata jorok. Aku berusaha mempercepat langkah menghindari mereka. Tapi mereka terus mengikutiku,”jawab Dina dengan napas memburu.
“Ibu, sesampainya di kebun  karet dekat kampus, salah satu dari mereka tiba-tiba mencolek-colekku, aku tepis tangan itu. Kemudian yang lain ikut-ikutan, bahkan ada yang meremas payudaraku. Aku berontak dan mencoba lari. Tapi mereka mengejar dan menangkapku. Mereka menyeretku ke semak-semak belukar. Disana mereka memuaskan nafsu mereka dan memperkosaku. Salah satu dari mereka mengambil gambarku yang tanpa busana dengan kamera. Mereka mengancam akan menyebar foto-foto telanjangku bila aku menceritakan kejadian itu, Bu. Setelah mereka kabur, aku mengenakan kembali pakaianku yang sudah sobek-sobek, dengan sisa tenaga yang ada  berjalan tertatih menahan rasa sakit. Di ujung jalan, aku bertemu dengan seorang anak kecil yang baru pulang mengaji. Dia membantuku berjalan dan mengajakku kemari. Keluarganya kemudian membantuku bersama warga lain,”lanjut Dina  mengungkapkan kronologis pemerkosaan yang menimpa dirinya.
Ibu menghela napas panjang. Meski berat, ibu mencoba tegar untuk bisa memberikan kekuatan dan dukungan moral untuk putri tercinta. Ibu memeluk putrinya dengan erat.
“Tidak ada yang perlu ditakutkan, Sayang. Kita akan laporkan pemerkosaan ini kepada pihak yang berwajib.Allah bersama kita, Dia akan membantumu melewati masa-masa sulit ini.”
Lalu ibu berdiri dan menghampiri anak kecil yang telah menolong Dina. Ibu memeluk anak lelaki itu.
“Terima kasih, Nak. Mungkin bila tidak ada kamu, mungkin akan terjadi sesuatu yang lebih buruk lagi menimpa anak saya.
Ibu mengeluarkan sepuluh lembar uang seratus ribuan kepada anak tersebut. Namun anak itu menolak.
“Dimas bertemu kakak Dina karena Allah yang mempertemukan kami. Atas kehendak-Nya pula Dimas wajib menolong kakak Dina,”ujarnya dengan wajah polos.
“Subhanallah,”cetus ibu.
Mbok Ndar, ibunda Dimas menghampiri Dina yang masih gemetaran dan berkata,”Nak, mari ikut kami, kami sudah siapkan kamar untukmu dan ibumu. Bila lapar, ada makanan yang bisa dimakan sekadarnya.”
“Tidak usah repot-repot, Bu. Kami mohon pamit karena kami harus segera ke rumah sakit untuk melakukan visum dan selanjutnya melaporkan peristiwa ini kepada Kepolisian. Terima kasih atas bantuan kalian. Mungkin lain kali, kami bermaksud mengundang Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu, mohon datanglah ke rumah kami,”jawab ibu.
Ibu pun memanggil Carmel, sopir pribadi keluarga mereka, dan Ilyas, petugas keamanan yang bekerja di rumah mereka. Carmel dan Ilyas dengan sigap membantu Dina berdiri dan membopong ke mobil mewah mereka. Angin berhembus dengan kencang tiada menyurutkan niat ibu untuk membawa Dina pulang.
BMW X5 hitam itu kemudian melaju dengan gagah membelah kegelapan malam. Dari dalam mobil, Dina menatap rembulan dengan mata kosong, tak tahu apakah esok masih dapat melihat keindahan bulan yang menerangi malam.


Oleh: Citra Fitriana
Jakarta, 20 September 2011