Mimpi Dan Tekad Gadis Cilik Menjadi Penulis Agar Bisa Membantu Sesama Lewat Hasil Karyanya
Brenda Sulaiman
My mother is my hero
Rabu, 05 Oktober 2011
Rabu, 28 September 2011
Tentang Cinta
Apakah cinta itu benar-benar indah? Atau cinta itu ada hanya untuk
menyakiti perasaan kita saja? Entahlah. Hanya Sang Pemilik Cinta, yaitu TUHAN
saja yang bisa menjawabnya dengan tegas untuk apa DIA menumbuhkan cinta di hati
makhluk-Nya, kemudian mematahkannya kembali.
Cinta itu aneh. Pada saat kita
jatuh cinta pada seseorang, kita tiba-tiba punya sayap dan terbang
melayang-layang ke ‘Surga’.Semua terasa manis bagaikan madu yang siap dihisap
setiap waktu.Namun bila madu itu habis, akan terasa sepahit empedu. Setiap hari
kita menangis karena hati teriris. Kita bahkan membenci orang yang pernah kita
cintai itu.dan menyesal mempertanyakan kenapa harus bersua dan jatuh cinta bila
akhirnya harus berpisah.
Kita tidak pernah tahu kapan
datangnya cinta. Bahkan orang yang kita cintai tidak sesuai dengan harapan dan
angan-angan. Sama halnya kita tidak bisa mencegah perginya cinta. Orang yang
tidak diharapkan tersebut menjadi sesuatu yang penting di saat kita sudah tidak
memilikinya lagi.
Kadang orang yang kita cintai
justru lebih sering menyakiti perasaan kita. Dan kita terlalu menuntut kepada
TUHAN bahwasanya orang yang kita cintai juga harus mencintai kita seperti kita
mencintainya. Tapi kita lupa bahwa orang yang kita cintai itu bukan sesuatu
yang kekal abadi, sesuatu yang sempurna
yang dapat hidup selamanya. Cinta kita pada orang dan orang yang kita
cintai adalah sesuatu yang semu, yang berifat sementara. Sesuatu yang dapat berubah sewaktu-waktu
tergantung situasi dan kondisi yang ada.
Ada satu cinta yang sangat indah dan tidak lekang dimakan waktu. Cinta
TUHAN kepada makhluk-Nya. TUHAN tidak pernah balas menyakiti bila dikhianati,
tidak balas mencaci apabila dimaki. DIA selalu memberikan cinta yang
sebesar-besarnya kepada semua makhluk tanpa ada satupun persyaratan diajukan.
DIA selalu memaafkan apabila makhluk-Nya berbuat kesalahan, tak peduli telah
membunuh, mencuri uang negara, ataupun melacurkan tubuh kepada seribu lelaki.
Mampukah kita membalas cinta
TUHAN meskipun DIA tidak pernah meminta cinta kita? Sudikah kita bersujud di
hadapan-Nya dengan kekhusyukan yang mendalam meskipun DIA tidak minta disembah?
Dapatkah kita menjalankan segala perintah dan menjauhi larangan-Nya meskipun
Dia tidak pernah memaksa kita melakukannya?
TUHAN Maha Pecinta. Menjanjikan
surga bagi orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan mengampuni orang-orang yang
khilaf. ALLAHU AKBAR…
Citra Fitriana
Jakarta, Rabu-28 September 2011
Minggu, 25 September 2011
Cinta Ayah Sejati
Tuhan berikan
obat
Kala jiwaku
terhimpit
Tuhan kirimkan malaikat
Kau beri empati
tingkat tinggi
Kala tiada yang peduli diriku lagi
Kau beri cinta setulus hati
Kala kalbuku sepi
Kau bekali otakku
dengan ilmu
Agar bisa menjadi buku
Kau bagi pengalaman hidupmu
Agar bisa menjadi guru
Kau sandarkan
kepalaku di bahumu yang kokoh
Kala luka hatiku semakin terasa perih
Kau hapus airmataku dengan susah payah
Kala hatiku semakin
gundah
Ayah sejatiku, izinkan kubalas jasa
Walau hanya seuntai doa
Ayah sejatiku, izinkan kubalas cinta
Yang selalu terpatri di dalam dada
Oleh: Citra Fitriana
Rabu, 21 September 2011
Kekasih Abadi
Mata indahmu berkilat pancarkan cahaya
Pesona aura wajah rupawan
Tunjukkan kebesaran Illahi
Kau ajari aku
cinta tanpa kata-kata
Cinta bukan ucapan mesra dibibir semata
Kau tumbuhkan bunga-bunga cinta
Menjadi indah dengan tindakan nyata
Cintaku padamu
takkan pudar dimakan waktu
Sampai kapanpun
kan kutunggu dirimu
Namamu kan selalu
terukir manis di hati
Meski pernah menyakiti hati bertubi-tubi
Wahai Pangeranku berkelanalah engkau
Kutepis rasa takut kehilanganmu
Tuhan pasti kan
menjaga jantung hatiku
Mengembalikanmu padaku kala hati merindu
Wahai kuda jantanku berlarilah engkau
Kutepis rasa takut kehilanganmu
Kupasrahkan pada
sang waktu
Menyatukan gairah
cinta nan menggebu
Jakarta, Kamis-23
September 2011
Bara Api Cinta
Kekagumanku padamu tak pernah usai
Akhlak mulia yang selalu tulus memberi
Tak pernah berjanji tapi tidak menyakiti
Api cintaku padamu tak pernah padam
Tetap mencintai walau kaki ini berjalan di kehidupan yang
kelam
Selalu menyinari meski hari berganti malam
Bintang kehidupanku
Mungkinkah kubalas cintamu
Yang selalu menyelimuti tubuh dan hatiku
Oleh: Citra Fitriana
Cinta Mama Pada Beta
Mama adalah pelita hati
Selalu menerangi di dalam gelap
Mama adalah sahabat sejati
Selalu menemani di dalam sunyi
Kasih mama kepada beta
Selalu ada sepanjang masa
Tak peduli beta telah
beranjak dewasa
Dan siap bertarung menghadapi kerasnya dunia
Kelembutan mama
mengajari beta cinta
Kegigihan mama
mendidik beta menjadi kuat
Kesabaran mama
mengajari beta tegar
Ketangguhan mama
mendidik beta menjadi perkasa
Terima kasih mama
Beta tahu terima
kasih tidak akan pernah cukup membalas cinta
Terima kasih mama
Telah sudi
memberi tanpa harap menerima kembali
Selasa, 20 September 2011
Kapal Karam
Kau berusaha agar
kapal ini bisa menampung banyak penumpang
Kau yang
menginginkan menjadi nahkoda
Kau jalankan
kapal ini dengan caramu
Ketika laut
pasang kau lepas kapal ke lautan luas
Dengan angkuh kau
kemudikan kapalmu
Tak kau hiraukan
keluh kesah penumpang
Tak kau pedulikan
air laut yang diam-diam masuk ke dalam kapal
Kandaskan kapal
yang tengah mengarungi lautan
Terdengar jerit
penumpang
Terjebak dalam
situasi mencekam dan menakutkan
Kini kau hanya
bisa memandangi bangkai kapal yang karam
Kau meratapi
kepergian penumpang teman di perjalanan
Kini kau
menyesali pelayaran yang kau rancang
Kau bunuh dirimu
sendiri dengan tangisan yang sia-sia
Jakarta, Rabu-14
September 2011
RUANG KOSONG
Aku terlahir
dengan satu ruang dihatiku
Ruang yang seharusnya diisi dengan cinta
Yang seharusnya siap untuk berbagi cinta
Tapi ruang itu kosong
Tiada yang
mengisi sejak kuterlahir ke dunia fana
Ku tak mengerti
mengapa ruang itu menjadi gelap gulita
Akankah ruang itu
akan tetap kosong
Dan semakin
menjadi gelap
Sampai nyawa ini
meregang dari jasad yang bersifat sementara?
Rindu TUHAN
Kala hati hampa dan jiwa sunyi
Kurindu sesuatu tuk mengisi relung kalbu
Ketika kidung pilu menyayat hati
Kubutuh sesuatu tuk mengobati luka
Saat semua orang menuding diri ini
Kuingin sesuatu tuk menutupi aib
Kau mampu membuat semuanya menjadi nyata
Kau mampu mencinta tanpa syarat
Kau mampu memberi tanpa menerima
Kau mampu memaafkan tanpa mengungkit kesalahan yang tlah terjadi
Tuhan akankah kumelihat wajah-Mu
Melihat sosok-Mu Yang Maha Besar
Tuhan mungkinkah kumencintai-Mu
Seperti Kau mencintaiku
Di hari nan senja ku merindukan-Mu
Ku bernapas dan kurasakan ada Kau di dalam napasku
Di sore nan cerah ku merindukan-Mu
Ku menangis dan kurasakan ada Kau di air mataku
Maha besar diri-Mu Tuhan
Kau ada dimana-mana tanpa terlihat sosok-Mu secara kasat mata
Kau mampu mencintai tanpa harus diketahui oleh makhluk-Mu
Kau sanggup memberi tanpa harus menerima kembali

Jakarta, Selasa-13 September 2011
Oleh:Citra Fitriana
Asa Yang Terbang Ditiup Angin Malam
Di penghujung malam. lilin-lilin
kecil itu masih memijarkan cahaya menerangi sebuah ruangan pengap yang berdebu.
Di sudut ruangan, seorang gadis cantik duduk lemas. Kedua kakinya yang dipeluk
tangannya tampak gemetar. Meskipun air mata membasahi pipi putih halusnya,
namun kecantikan tak pudar dari wajah oval itu.
“Akankah gelap berganti terang?” tanyanya sambil menghapus air mata.
Sreeeettt...suara pintu terbuka.
“Dina!!!”seru wanita paruh baya
kepada gadis itu.
“Ibu…,”balas Dina sambil terisak
pilu.
Sang ibu bergegas menghampiri
gadis jelita itu, kemudian memeluknya erat. Tangis Dina pun meledak saat
wajahnya berada dalam dekapan wanita bertubuh mungil itu. Kesabaran seorang ibu
yang penuh kasih memberikan sedikit ketenangan bagi jiwa yang terluka.
Dengan lembut, ibu mengangkat
wajah Dina yang basah. Air mata terus menetes. Dina menggigit bibir bawahnya
seperti ingin menahan rasa sakit yang sangat dalam.
“Me..re…ka mem...mem..memper…kosaku,
Bu…” terbata-bata Dina bercerita kepada ibu. Kesedihan yang mendalam membuatnya
tak sadarkan diri.
Ibu pun panik dan berteriak memanggil-manggil warga yang menunggu di luar
ruangan.
“Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, tolong,
tolong anak saya.”
Warga pun segera membantu ibu
menyadarkan Dina. Salah seorang dari mereka membawakan obat gosok untuk
ditempelkan ke hidung Dina agar gadis ayu itu cepat siuman.
“Siapa yang memeperkosamu, Nak?”
tanya ibu kepada Dina usai putri semata wayangnya sadar dari pingsan.
“Mereka berdelapan, tukang ojek
yang biasa mangkal di depan kampusku, menguntitku dari kampus, kemudian mereka
mengeluarkan kata-kata jorok. Aku
berusaha mempercepat langkah menghindari mereka. Tapi mereka terus
mengikutiku,”jawab Dina dengan napas memburu.
“Ibu, sesampainya di kebun karet
dekat kampus, salah satu dari mereka tiba-tiba mencolek-colekku, aku tepis
tangan itu. Kemudian yang lain ikut-ikutan, bahkan ada yang meremas
payudaraku. Aku berontak dan mencoba
lari. Tapi mereka mengejar dan menangkapku. Mereka menyeretku ke semak-semak belukar. Disana mereka memuaskan nafsu mereka dan memperkosaku.
Salah satu dari mereka mengambil gambarku yang tanpa busana dengan kamera.
Mereka mengancam akan menyebar foto-foto telanjangku bila aku menceritakan
kejadian itu, Bu. Setelah mereka kabur, aku mengenakan kembali pakaianku yang
sudah sobek-sobek, dengan sisa tenaga yang ada
berjalan tertatih menahan rasa sakit. Di ujung jalan, aku bertemu dengan
seorang anak kecil yang baru pulang mengaji. Dia membantuku berjalan dan
mengajakku kemari. Keluarganya kemudian membantuku bersama warga lain,”lanjut
Dina mengungkapkan kronologis
pemerkosaan yang menimpa dirinya.
Ibu menghela napas panjang. Meski berat, ibu mencoba tegar untuk bisa
memberikan kekuatan dan dukungan moral untuk putri tercinta. Ibu memeluk
putrinya dengan erat.
“Tidak ada yang perlu ditakutkan, Sayang. Kita akan laporkan pemerkosaan
ini kepada pihak yang berwajib.Allah bersama kita, Dia akan membantumu melewati
masa-masa sulit ini.”
Lalu ibu berdiri dan menghampiri anak kecil yang telah menolong Dina. Ibu
memeluk anak lelaki itu.
“Terima kasih, Nak. Mungkin bila tidak ada kamu, mungkin akan terjadi
sesuatu yang lebih buruk lagi menimpa anak saya.
Ibu mengeluarkan sepuluh lembar uang seratus ribuan kepada anak tersebut.
Namun anak itu menolak.
“Dimas bertemu kakak Dina karena Allah yang mempertemukan kami. Atas
kehendak-Nya pula Dimas wajib menolong kakak Dina,”ujarnya dengan wajah polos.
“Subhanallah,”cetus ibu.
Mbok Ndar, ibunda Dimas menghampiri Dina yang masih gemetaran dan berkata,”Nak,
mari ikut kami, kami sudah siapkan kamar untukmu dan ibumu. Bila lapar, ada
makanan yang bisa dimakan sekadarnya.”
“Tidak usah repot-repot, Bu. Kami
mohon pamit karena kami harus segera ke rumah sakit untuk melakukan visum dan
selanjutnya melaporkan peristiwa ini kepada Kepolisian. Terima kasih atas
bantuan kalian. Mungkin lain kali, kami bermaksud mengundang Bapak-Bapak dan
Ibu-Ibu, mohon datanglah ke rumah kami,”jawab ibu.
Ibu pun memanggil Carmel , sopir pribadi
keluarga mereka, dan Ilyas, petugas keamanan yang bekerja di rumah mereka. Carmel dan Ilyas dengan sigap membantu
Dina berdiri dan membopong ke mobil mewah mereka. Angin berhembus dengan
kencang tiada menyurutkan niat ibu untuk membawa Dina pulang.
BMW X5 hitam itu kemudian melaju dengan gagah membelah kegelapan malam. Dari
dalam mobil, Dina menatap rembulan dengan mata kosong, tak tahu apakah esok
masih dapat melihat keindahan bulan yang menerangi malam.
Liebe ist Geduld
Liebe ist Geduld
Ich lerne ueber die Liebe von dir
Ich liebe dich, aber nicht leicht, dich zu lieben
Ich muss immer dich verstehen
Aber du willst mich nie verstehen
Ich liebe dich, aber nicht leicht, dich zu lieben
Ich gebe dir immer alles
Aber du gibst mir nie etwas
Ich will einfach nur deine Liebe haben
Und du hast meine Liebe
Wir lieben sich fuer immer
Citra Fitriana
Jakarta, Selasa-23-Agustus-2011-10:00
Ich vermisse Dich
Haette ich Fluegeln, wuerde ich ins Himmel fliegen, um DICH zu treffen
Haette ich Zeit, wuerde ich ein schoenes Moschee bauen
Haette ich viel Geld, gaebe ich es den armen Leuten
Ich bin traurig, denn ich bin schuldig
Ich kann nichts für Dich tun, aber Du gibst mir immer alles
Haette ich Fluegeln, wuerde ich ins Himmel fliegen, um DICH zu treffen
Citra Fitriana Siregar
Jakarta, Selasa-23-Agustus-2011-09:00
Langganan:
Postingan (Atom)












