Brenda Sulaiman

Brenda Sulaiman
My mother is my hero

Rabu, 28 September 2011

Tentang Cinta


Apakah cinta itu benar-benar indah? Atau cinta itu ada hanya untuk menyakiti perasaan kita saja? Entahlah. Hanya Sang Pemilik Cinta, yaitu TUHAN saja yang bisa menjawabnya dengan tegas untuk apa DIA menumbuhkan cinta di hati makhluk-Nya, kemudian mematahkannya kembali.
Cinta itu aneh. Pada saat kita jatuh cinta pada seseorang, kita tiba-tiba punya sayap dan terbang melayang-layang ke ‘Surga’.Semua terasa manis bagaikan madu yang siap dihisap setiap waktu.Namun bila madu itu habis, akan terasa sepahit empedu. Setiap hari kita menangis karena hati teriris. Kita bahkan membenci orang yang pernah kita cintai itu.dan menyesal mempertanyakan kenapa harus bersua dan jatuh cinta bila akhirnya harus berpisah.
Kita tidak pernah tahu kapan datangnya cinta. Bahkan orang yang kita cintai tidak sesuai dengan harapan dan angan-angan. Sama halnya kita tidak bisa mencegah perginya cinta. Orang yang tidak diharapkan tersebut menjadi sesuatu yang penting di saat kita sudah tidak memilikinya lagi.
Kadang orang yang kita cintai justru lebih sering menyakiti perasaan kita. Dan kita terlalu menuntut kepada TUHAN bahwasanya orang yang kita cintai juga harus mencintai kita seperti kita mencintainya. Tapi kita lupa bahwa orang yang kita cintai itu bukan sesuatu yang kekal abadi, sesuatu yang sempurna  yang dapat hidup selamanya. Cinta kita pada orang dan orang yang kita cintai adalah sesuatu yang semu, yang berifat sementara. Sesuatu yang dapat berubah sewaktu-waktu tergantung situasi dan kondisi yang ada.
Ada satu cinta yang sangat indah dan tidak lekang dimakan waktu. Cinta TUHAN kepada makhluk-Nya. TUHAN tidak pernah balas menyakiti bila dikhianati, tidak balas mencaci apabila dimaki. DIA selalu memberikan cinta yang sebesar-besarnya kepada semua makhluk tanpa ada satupun persyaratan diajukan. DIA selalu memaafkan apabila makhluk-Nya berbuat kesalahan, tak peduli telah membunuh, mencuri uang negara, ataupun melacurkan tubuh kepada seribu lelaki.
Mampukah kita membalas cinta TUHAN meskipun DIA tidak pernah meminta cinta kita? Sudikah kita bersujud di hadapan-Nya dengan kekhusyukan yang mendalam meskipun DIA tidak minta disembah? Dapatkah kita menjalankan segala perintah dan menjauhi larangan-Nya meskipun Dia tidak pernah memaksa kita melakukannya?
TUHAN Maha Pecinta. Menjanjikan surga bagi orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan mengampuni orang-orang yang khilaf. ALLAHU AKBAR…

Citra Fitriana
Jakarta, Rabu-28 September 2011

Minggu, 25 September 2011

Cinta Ayah Sejati

Kala hatiku sakit
Tuhan berikan obat
Kala jiwaku terhimpit
Tuhan kirimkan malaikat

Kau beri empati tingkat tinggi
Kala tiada yang peduli diriku lagi
Kau beri cinta setulus hati
Kala kalbuku sepi

Kau bekali otakku dengan ilmu
Agar bisa menjadi buku
Kau bagi pengalaman hidupmu
Agar bisa menjadi guru

Kau sandarkan kepalaku di bahumu yang kokoh
Kala luka hatiku semakin terasa perih
Kau hapus airmataku dengan susah payah
Kala hatiku semakin  gundah

Ayah sejatiku, izinkan kubalas jasa
Walau hanya seuntai doa
Ayah sejatiku, izinkan kubalas cinta
Yang selalu terpatri di dalam dada


Jakarta, Senin-26 September 2011
Oleh: Citra Fitriana  


Sebuah puisi untuk ayah angkat yang selalu menyertai perjalanan hidupku dalam doanya.

Rabu, 21 September 2011

Kekasih Abadi


Masih kuingat senyum tulus dari bibirmu
Mata indahmu berkilat pancarkan cahaya
Pesona aura wajah rupawan
Tunjukkan kebesaran Illahi

Kau ajari aku cinta tanpa kata-kata
Cinta bukan ucapan mesra dibibir semata
Kau tumbuhkan bunga-bunga cinta
Menjadi indah dengan tindakan nyata

Cintaku padamu takkan pudar dimakan waktu
Sampai kapanpun kan kutunggu dirimu
Namamu kan selalu terukir manis di hati
Meski pernah menyakiti hati bertubi-tubi

Wahai Pangeranku berkelanalah engkau
Kutepis rasa takut kehilanganmu
Tuhan pasti kan menjaga jantung hatiku
Mengembalikanmu padaku kala hati merindu

Wahai kuda jantanku berlarilah engkau
Kutepis rasa takut kehilanganmu
Kupasrahkan pada sang waktu
Menyatukan gairah cinta nan menggebu

Jakarta, Kamis-23 September 2011
Oleh: Citra Fitriana

Bara Api Cinta


Kekagumanku padamu tak pernah usai
Akhlak mulia yang selalu tulus memberi
Tak pernah berjanji tapi tidak menyakiti


Api cintaku padamu tak pernah padam
Tetap mencintai walau kaki ini berjalan di kehidupan yang kelam
Selalu menyinari meski hari berganti malam

Bintang kehidupanku
Mungkinkah kubalas cintamu
Yang selalu menyelimuti tubuh dan hatiku

Jakarta, Rabu-21 September 2011
Oleh: Citra  Fitriana


Cinta Mama Pada Beta


Mama adalah pelita hati
Selalu menerangi di dalam gelap
Mama adalah sahabat sejati
Selalu menemani di dalam sunyi
Kasih mama kepada beta
Selalu ada sepanjang masa
Tak peduli beta telah beranjak dewasa
Dan siap bertarung menghadapi kerasnya dunia

Kelembutan mama mengajari beta cinta
Kegigihan mama mendidik beta menjadi kuat
Kesabaran mama mengajari beta tegar
Ketangguhan mama mendidik beta menjadi perkasa

Terima kasih mama
Beta tahu terima kasih tidak akan pernah cukup membalas cinta
Terima kasih mama
Telah sudi memberi tanpa harap menerima kembali

Oleh: Citra Fitriana
Jakarta, Rabu-21 September 2011






Selasa, 20 September 2011

Kapal Karam


Kau yang menginginkan kapal ini ada
Kau berusaha agar kapal ini bisa menampung banyak penumpang
Kau yang menginginkan menjadi nahkoda
Kau jalankan kapal ini dengan caramu

Ketika laut pasang kau lepas kapal ke lautan luas
Dengan angkuh kau kemudikan kapalmu
Tak kau hiraukan keluh kesah penumpang
Tak kau pedulikan air laut yang diam-diam masuk ke dalam kapal

Gelombang pasang menghadang
Kandaskan kapal yang tengah mengarungi lautan
Terdengar jerit penumpang
Terjebak dalam situasi mencekam dan menakutkan

Kini kau hanya bisa memandangi bangkai kapal yang karam
Kau meratapi kepergian penumpang teman di perjalanan
Kini kau menyesali pelayaran yang kau rancang
Kau bunuh dirimu sendiri dengan tangisan yang sia-sia


Jakarta, Rabu-14 September 2011
Oleh: Citra Fitriana

RUANG KOSONG


Aku terlahir dengan satu ruang dihatiku
Ruang yang seharusnya diisi dengan cinta
Yang seharusnya siap untuk berbagi cinta

Tapi ruang itu kosong
Tiada yang mengisi sejak kuterlahir ke dunia fana
Ku tak mengerti mengapa ruang itu menjadi gelap gulita

Akankah ruang itu akan tetap kosong
Dan semakin menjadi gelap
Sampai nyawa ini meregang dari jasad yang bersifat sementara?



Jakarta, Selasa-13 September 2011
Oleh: Citra Fitriana

Rindu TUHAN

Kala hati hampa dan jiwa sunyi
Kurindu sesuatu tuk mengisi relung kalbu

Ketika kidung pilu menyayat hati
Kubutuh sesuatu tuk mengobati luka

Saat semua orang menuding diri ini
Kuingin sesuatu tuk menutupi aib

Dan sesuatu itu hanya Kau
Kau mampu membuat semuanya menjadi nyata
Kau mampu mencinta tanpa syarat
Kau mampu memberi tanpa menerima
Kau mampu memaafkan tanpa mengungkit kesalahan yang tlah terjadi

Tuhan akankah kumelihat wajah-Mu
Melihat sosok-Mu Yang Maha Besar
Tuhan mungkinkah kumencintai-Mu
Seperti Kau mencintaiku

Di hari nan senja ku merindukan-Mu
Ku bernapas dan kurasakan ada Kau di dalam napasku
Di sore nan cerah ku merindukan-Mu
Ku menangis dan kurasakan ada Kau di air mataku

Maha besar diri-Mu Tuhan
Kau ada dimana-mana tanpa terlihat sosok-Mu secara kasat mata
Kau mampu mencintai tanpa harus diketahui oleh makhluk-Mu
Kau sanggup memberi tanpa harus menerima kembali

Jakarta, Selasa-13 September 2011
Oleh:Citra Fitriana

Asa Yang Terbang Ditiup Angin Malam


Di penghujung malam. lilin-lilin kecil itu masih memijarkan cahaya menerangi sebuah ruangan pengap yang berdebu. Di sudut ruangan, seorang gadis cantik duduk lemas. Kedua kakinya yang dipeluk tangannya tampak gemetar. Meskipun air mata membasahi pipi putih halusnya, namun kecantikan tak pudar dari wajah oval itu.
“Akankah gelap berganti terang?” tanyanya sambil menghapus air mata.
Sreeeettt...suara pintu terbuka.
“Dina!!!”seru wanita paruh baya kepada gadis itu.
“Ibu…,”balas Dina sambil terisak pilu.
Sang ibu bergegas menghampiri gadis jelita itu, kemudian memeluknya erat. Tangis Dina pun meledak saat wajahnya berada dalam dekapan wanita bertubuh mungil itu. Kesabaran seorang ibu yang penuh kasih memberikan sedikit ketenangan bagi jiwa yang terluka.
Dengan lembut, ibu mengangkat wajah Dina yang basah. Air mata terus menetes. Dina menggigit bibir bawahnya seperti ingin menahan rasa sakit yang sangat dalam.
“Me..re…ka mem...mem..memper…kosaku, Bu…” terbata-bata Dina bercerita kepada ibu. Kesedihan yang mendalam membuatnya tak sadarkan diri.
Ibu pun panik dan berteriak memanggil-manggil warga yang menunggu di luar ruangan.
“Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, tolong, tolong anak saya.”
Warga pun segera membantu ibu menyadarkan Dina. Salah seorang dari mereka membawakan obat gosok untuk ditempelkan ke hidung Dina agar gadis ayu itu cepat siuman.
“Siapa yang memeperkosamu, Nak?” tanya ibu kepada Dina usai putri semata wayangnya sadar dari pingsan.
“Mereka berdelapan, tukang ojek yang biasa mangkal di depan kampusku,  menguntitku dari kampus, kemudian mereka mengeluarkan kata-kata jorok. Aku berusaha mempercepat langkah menghindari mereka. Tapi mereka terus mengikutiku,”jawab Dina dengan napas memburu.
“Ibu, sesampainya di kebun  karet dekat kampus, salah satu dari mereka tiba-tiba mencolek-colekku, aku tepis tangan itu. Kemudian yang lain ikut-ikutan, bahkan ada yang meremas payudaraku. Aku berontak dan mencoba lari. Tapi mereka mengejar dan menangkapku. Mereka menyeretku ke semak-semak belukar. Disana mereka memuaskan nafsu mereka dan memperkosaku. Salah satu dari mereka mengambil gambarku yang tanpa busana dengan kamera. Mereka mengancam akan menyebar foto-foto telanjangku bila aku menceritakan kejadian itu, Bu. Setelah mereka kabur, aku mengenakan kembali pakaianku yang sudah sobek-sobek, dengan sisa tenaga yang ada  berjalan tertatih menahan rasa sakit. Di ujung jalan, aku bertemu dengan seorang anak kecil yang baru pulang mengaji. Dia membantuku berjalan dan mengajakku kemari. Keluarganya kemudian membantuku bersama warga lain,”lanjut Dina  mengungkapkan kronologis pemerkosaan yang menimpa dirinya.
Ibu menghela napas panjang. Meski berat, ibu mencoba tegar untuk bisa memberikan kekuatan dan dukungan moral untuk putri tercinta. Ibu memeluk putrinya dengan erat.
“Tidak ada yang perlu ditakutkan, Sayang. Kita akan laporkan pemerkosaan ini kepada pihak yang berwajib.Allah bersama kita, Dia akan membantumu melewati masa-masa sulit ini.”
Lalu ibu berdiri dan menghampiri anak kecil yang telah menolong Dina. Ibu memeluk anak lelaki itu.
“Terima kasih, Nak. Mungkin bila tidak ada kamu, mungkin akan terjadi sesuatu yang lebih buruk lagi menimpa anak saya.
Ibu mengeluarkan sepuluh lembar uang seratus ribuan kepada anak tersebut. Namun anak itu menolak.
“Dimas bertemu kakak Dina karena Allah yang mempertemukan kami. Atas kehendak-Nya pula Dimas wajib menolong kakak Dina,”ujarnya dengan wajah polos.
“Subhanallah,”cetus ibu.
Mbok Ndar, ibunda Dimas menghampiri Dina yang masih gemetaran dan berkata,”Nak, mari ikut kami, kami sudah siapkan kamar untukmu dan ibumu. Bila lapar, ada makanan yang bisa dimakan sekadarnya.”
“Tidak usah repot-repot, Bu. Kami mohon pamit karena kami harus segera ke rumah sakit untuk melakukan visum dan selanjutnya melaporkan peristiwa ini kepada Kepolisian. Terima kasih atas bantuan kalian. Mungkin lain kali, kami bermaksud mengundang Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu, mohon datanglah ke rumah kami,”jawab ibu.
Ibu pun memanggil Carmel, sopir pribadi keluarga mereka, dan Ilyas, petugas keamanan yang bekerja di rumah mereka. Carmel dan Ilyas dengan sigap membantu Dina berdiri dan membopong ke mobil mewah mereka. Angin berhembus dengan kencang tiada menyurutkan niat ibu untuk membawa Dina pulang.
BMW X5 hitam itu kemudian melaju dengan gagah membelah kegelapan malam. Dari dalam mobil, Dina menatap rembulan dengan mata kosong, tak tahu apakah esok masih dapat melihat keindahan bulan yang menerangi malam.


Oleh: Citra Fitriana
Jakarta, 20 September 2011







Liebe ist Geduld

Liebe ist Geduld
Ich lerne ueber die Liebe von dir
Ich liebe dich, aber nicht leicht, dich zu lieben
Ich muss immer dich verstehen
Aber du willst mich nie verstehen
Ich  liebe dich, aber nicht leicht, dich zu lieben
Ich gebe dir  immer alles
Aber du gibst mir nie etwas
Ich will einfach nur deine Liebe haben
Und du hast meine Liebe
Wir lieben sich fuer immer


Citra Fitriana
Jakarta, Selasa-23-Agustus-2011-10:00

Ich vermisse Dich

Haette ich Fluegeln, wuerde ich ins Himmel fliegen, um DICH zu treffen
Haette ich Zeit, wuerde ich ein schoenes Moschee bauen
Haette ich viel Geld, gaebe ich es den armen Leuten
Ich bin traurig, denn ich bin schuldig
Ich kann nichts für Dich tun, aber Du gibst mir immer alles
Haette ich Fluegeln, wuerde ich ins Himmel fliegen, um DICH zu treffen


Citra Fitriana Siregar
Jakarta, Selasa-23-Agustus-2011-09:00